Search for content, post, videos

Unik, Alat Musik Dibuat Menggunakan 2000 Kelereng

d

Seorang seniman musik selalu membuat varian lagu atau musik dengan sangat apik dan juga kreatif. Seniman juga harus mampu menarik perhatian banyak orang agar hasil karya yang mereka ciptakan menjadi terkenal dan di apresiasi dengan sangat bagus. Bercerita tentang seniman yang kreatif, Seorang seniman asal Sweddia menciptakan musik dengan sangat kreatif dan sangat sangat unik. Gimana tidak dia menciptakan musik dengan banyak kelereng. pakai kelereng? emang bisa? penasaran kan, yuk simak kebawah.

Seniman Kreatif

Kamu pernah mengoleksi kelereng semasa kanak-kanak? Mungkin saat ini permainan kelereng terbilang langka. Tetapi tidak bagi Martin Molin. Musisi asal Swedia ini malah betah “bermain” kelereng. Tak tanggung-tanggung, ia “memainkan” 2.000 kelereng—menjadikannya instrumen musik berukuran besar. Butuh waktu 14 bulan untuk membuat kelereng koleksinya bisa melantunkan melodi dan nada.

n

Martin resmi meluncurkan alat musik buatannya, Marble Machine, pada 29 Februari, dengan mengunggah video yang menampilkan komposisi instrumental asli via YouTube. Seperti instrumen milik Rube Goldberg yang dimainkan dengan mengangkat kelereng ke atas sehingga meluncur ke bawah. Jatuhnya kelereng di lempeng-lempeng khusus itu membentuk “orkestra.”

Marble Machine buatan Martin mampu bermain bass, perkusi dan vibraphone dengan menggunakan serangkaian tuas yang mengarahkan kelereng bergulir ke arah yang diinginkan. Sang musisi muda berusia 33 tahun terinspirasi membuat Marble Machine setelah melakukan kunjungan ke museum instrumen mekanik di Utrecht, Belanda.

“Ketika saya menonton video Marble Machine di YouTube, yang saya pikirkan adalah ‘Akan lebih baik untuk dapat memprogram pola jatuh kelereng dan membiarkan mereka jatuh di not yang berbeda.'”

3

Martin memang genius. Ia membangun sendiri mesinnya, termasuk membiayai pembelian kayu serta berbagai alat-alat pertukangan, dari bandsaw, meja gergaji sampai bor. Awalnya ia mengira bisa menyelesaikan proyek tersebut dalam waktu dua bulan, namun ia mengaku alat ciptaannya itu lebih kompleks dari perkiraan sebelumnya.

“Semakin mendekati tahap penyelesaian, semakin rumit untuk menyelesaikannya. Aneh sekali bisa begitu, ketika sudah mau selesai semua melamban karena masalah-masalah kecil yang tidak terlihat sebelumnya.”

“Kita harus mulai menciptakan musik sekarang dan mengurangi waktu memungut kelereng dari lantai. Tapi itu sudah menjadi bagian dari proyek itu.”

Menjadi sebuah keunikan dan tantangan tersendiri untuk Martin yang membangun alat yang belum pernah sama sekali ia mainkan. Untungnya, ia pun belajar nuansa instrumen selama proses konstruksi.

“Saya pun latihan terus selama menyusunnya sepanjang waktu,” katanya. “Hal ini sangat cepat untuk memprogram ulang namun butuh banyak konsentrasi untuk menempatkan di tempat yang tepat.”

g

Martin mengatakan, momen menulis lagu via Marble Machine menjadi sebuah tantangan tersendiri karena instrumen tersebut hanya dapat digunakan untuk komposisi dengan panjang waktu tertentu.

“Dengan instrumen lain, Anda mungkin bisa bebas mengeksplorasi apa pun, sedangkan dengan mesin ini ada keterbatasan tindakan di awalnya, dan dengannya akan menjadi sesuatu yang kreatif,” katanya.

Dia juga harus mencari tahu jumlah kelereng yang tepat agar mesin dapat bekerja terbaik.

“Saya pertama kali membeli 500 kelereng, yang saya pikir itu sudah cukup,” katanya. “Lalu saya menambahnya 500 kelereng lagi tiga kali lebih.”

Martin, yang juga nge-band bersama Wintergatan, ingin menggunakan instrumen tersebut bersamanya, tapi itu tidak akan bekerja. Berikut aksi Martin Moli sedang memperagakan suatu gubahan yang dimainkan pada alat musik kelerengnya: